"Setelah dilakukan pemeriksaan dan tindakan di Surabaya, informasi yang kami terima justru ditemukan persoalan pada usus yang melintir. Karena itu keluarga mempertanyakan alasan dilakukannya pengangkatan rahim sebelumnya," ujarnya.

Selain menyoroti tindakan medis yang dilakukan terhadap pasien, pihak keluarga juga mengeluhkan sulitnya memperoleh dokumen rekam medis yang mereka butuhkan sebagai bahan penelusuran kasus.

"Ketika pasien dirawat di Surabaya, dokumen yang dibutuhkan bisa diperoleh sesuai prosedur. Namun saat meminta rekam medis di rumah sakit sebelumnya, kami merasa prosesnya tidak mudah," ungkap Imam.

Dalam aksi tersebut, massa mendesak RSIA Puri Bunda Madura untuk membuka akses informasi dan memberikan dokumen rekam medis pasien sesuai ketentuan yang berlaku.

Mereka juga meminta adanya pertanggungjawaban apabila nantinya ditemukan kesalahan dalam prosedur pelayanan medis.

ADVERTISEMENT

Tak hanya itu, demonstran turut meminta Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap pelayanan rumah sakit serta mengambil langkah tegas jika ditemukan pelanggaran berdasarkan hasil investigasi.

Menanggapi tuntutan tersebut, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pamekasan, Avira Sulistyowati, mengatakan pihaknya telah melakukan penelusuran awal bersama tim yang melibatkan organisasi profesi dan pihak rumah sakit.

"Saat ini proses investigasi masih berjalan. Kami masih melakukan koordinasi lanjutan, termasuk dengan tim dan komite medik di tingkat provinsi sebelum hasilnya disampaikan secara resmi kepada publik," jelas Avira.