Ia juga menyinggung simbolisme makanan katopak yang disajikan dalam tradisi tersebut. Makanan itu bukan sekadar hidangan, melainkan lambang kebersamaan dan kepedulian sosial. Melalui kegiatan berbagi, nilai solidaritas dan kekeluargaan ditanamkan secara alami di tengah masyarakat.

Selain itu, tellesen katopak dinilai sebagai bentuk adaptasi ajaran Islam dengan budaya lokal. Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana nilai universal Islam dapat diwujudkan dalam praktik yang kontekstual sesuai karakter masyarakat Madura.

“Dalam tradisi ini, agama tidak hanya hadir sebagai sistem kepercayaan, tetapi sebagai pengalaman kolektif yang membentuk makna hidup bersama,” urainya.

Ia menegaskan, di tengah arus modernisasi, tradisi lokal seperti tellesen katopak perlu terus dipahami dan dilestarikan. Menurutnya, tradisi tersebut merupakan bagian dari identitas budaya yang memperkaya praktik keberagamaan masyarakat.

“Ia adalah bukti bahwa dalam kebersamaan, ibadah menemukan makna yang lebih dalam, dan dalam tradisi, spiritualitas menemukan bentuknya yang paling manusiawi,” pungkasnya. (*)

ADVERTISEMENT