Novel Mountains More Ancient sendiri mengangkat latar tahun 1751, mengisahkan perjalanan seorang anak perempuan bernama Wulan yang harus meninggalkan tanah kelahirannya dan dibawa ke wilayah Cape Colony.

Dalam perjalanan tersebut, Wulan bersama orang-orang di sekitarnya berjuang mempertahankan identitas, keyakinan, serta ingatan mereka di tengah lingkungan baru yang multikultural.

Kisah ini juga menyoroti akar sejarah komunitas yang kemudian dikenal sebagai Cape Malay, sekaligus menggambarkan pengalaman pahit pemindahan paksa pada masa kolonial.

Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2020 oleh Penerbit Ombak dengan judul Sapaan Sang Giri, sebelum kemudian dirilis dalam versi bahasa Inggris oleh Kabar Media pada 2022.

Penerbitan ulang edisi kedua bahasa Indonesia dilakukan pada tahun 2024, menandakan tingginya minat pembaca terhadap karya tersebut.

ADVERTISEMENT

Selain mendapat perhatian internasional, novel ini juga memperoleh apresiasi dari sejumlah tokoh. Salah satunya adalah Ananda Sukarlan yang menilai karya tersebut memiliki kedalaman emosional dan nilai historis yang kuat.

Apresiasi serupa juga disampaikan oleh Halida Nuriah Hatta yang menilai novel ini mampu menggugah empati pembaca terhadap sejarah kelam perbudakan yang dialami masyarakat Indonesia di masa lalu.

Terpilihnya Mountains More Ancient mencerminkan meningkatnya ketertarikan dunia terhadap fiksi sejarah Indonesia yang mengangkat tema kolonialisme, diaspora, serta hubungan manusia dengan tanah asalnya. (*)