Terombang ambing Selama 7 Hari, 5 Nelayan Terdampar Hingga ke Lombok

  • Whatsapp

Lima orang nelayan asal Sumenep berhasil di pulangkan setelah sebelumnya terombang ambing di lautan selama tujuh hari. foto/madurasatu

SUMENEP – Lima nelayan asal Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep yang terseret arus dan terdampar di Desa Belanting, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur akhirnya tiba di Sumenep, Minggu (3/2/2019) sekira jam 21.30 WIB.

Read More

Kelima nelayan tersebut adalah Sa’a, Mukhlis, Matra’e, Niatun warga Desa Romben Barat dan Sahnari asal Desa Candi, Kecamatan Dungkek.

Sebelumnya lima orang nelayan tersebut terombang ambing selama tujuh hari di laut karena mesin perahu yang ditumpangi mengalami kerusakan mesin.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep Abd Rahman Riadi mengatakan, proses pemulangan terhadap nelayan dilakukan satu hari pasca terdampar di Lombok Timur.

“Setelah ada informasi tentang mereka, kami langsung berkoordinasi dengan pihak terkait untuk proses pemulangan. Dari Lombok diterbangkan dan kita langsung jemput di Bandara Juanda,” kata Abd Rahman Riadi saat tiba di kantor BPBD Sumenep bersama lima nelayan, Minggu (3/2/2019) malam.

Dijelaskanya, proses evakuasi hingga pemulangan ke daerah asal yaitu Kecamatan Dungkek berjalan dengan lancar, meski sebelunya sempat ada penolakan karena mereka tidak ingin meninggalkan perahunya di Lombok Timur.

“Awalnya mereka menolak untuk di evakuasi karena tidak mau meninggalkan perahunya. Perahu itu milik majikan, mereka hanya sebagai pekerja. Setelah dibujuk dan diberikan pengertian akhirnya mau di pulangkan,” paparnya.

“Setelah kita data langsung dipulangkan ke daerahnya masing-masing. Dari pihak Kecamatan Dungkek yang mengantar,” timpal Rahman Riadi.

Sementara Muhlis salah seorang nelayan menceritakan, selama tujuh hari diatas perahu dirinya bersama empat rekannya tidak bisa berbuat banyak.

“Saat perjalanan pulang mesin perahu meledak, itu disebelah baratnya Kangean. Perahu terus terbawa arus ke timur. Tidak bisa berbuat apa-apa kita sempat putus asa karena mesin sudah rusak,” cerita Muhlis saat ditanya awak media.

Kata dia, untuk bertahan hidup harus menghemat bekal. Bahkan dua hari sebelum sampai di daratan kelimanya tidak makan dan minum karena kehabisan bekal.

“Dua hari tidak makan karena bekal sudah habis. Kita pasrah saja. Sempat ada kapal besar melintas tapi tida berhenti, sampai akhirnya terdampat di Lombok Timur,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, lima nelayan asal Kecamatan Dungkek ini diketahui berangkat melaut sejak awal Januari 2019 untuk mencari ikan di sekitar perairan Pulau Sapeken dan Kangean, Kabupaten Sumenep.

Saat perjalanan pulang pada 28 Januari kapal mengalami kerusakan mesin dan sejak saat itu tidak ada lagi komunikasi hingga akhirnya pada 2 Februari mereka terdampar di Lombok Timur. Selama dinyatakan hilang Basarnas langsung mengerahkan tim guna melakukan pencarian. (pri/ros)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *